Dampak si Buku Wajah

Agustus 17, 2008

Salah satu temen dari Italy baru-baru ini ngirim email ke semua temen Facebook-nya.

“I’m closing my Facebook account cause I hate keeping contact with you all just by checking your Facebook status everyday and feeling enough with it. I would rather meet you in person in 10 years and ask how are you doing”

Bener juga kalo dipikir-pikir. Akhir-akhir ini salah satu rutinitas tiap pagi: buka Facebook, cek Home, liat status orang-orang lagi pada ngapain, trus udah aja gitu. Ga ngerasa perlu nyapa. Ga ngerasa perlu kirim sms atau email buat nanya apa kabar. Hmm…

Kerja kerja…

Agustus 9, 2008

Ga ada yang namanya liburan musim panas kali ini. Sejak ibu bilang kalau beliau pengen nengok anak satu-satunya di Eropa (hmm.. kayanya itu alasan kedua sih, alasan pertamanya mah pengen jalan-jalan!), aku memutuskan untuk ga mudik tahun ini demi memberangkatkan ibu ke Jerman, dan mulai cari-cari kegiatan untuk mengisi waktu liburan.

Waktu itu serba kebetulan banget. Aku baru saja ngobrol dengan temanku yang kuliah di Aerospace Engineering tentang mencari kerjaan paruh waktu. Di universitas-universitas Jerman, pekerjaan untuk mahasiswa biasanya disebut Hiwi job. Lima menit setelah ngobrol, eh dapet email dari milis yang subjeknya “Who wants to be a rocket scientist?”. Kebeneran banget soalnya temenku itu hobi banget ngomongin roket, meskipun yang ini kerjaannya buat anak computer science. Pas dibaca, eh ternyata kerjaannya itu bagian dari proyek yang dibiayai European Space Agency (ESA), kebeneran lagi soalnya temenku juga abis daftar kerjaan ke organisasi ini. Mereka lagi cari student assistant untuk ngerjain salah satu software model checking yang dipake buat ngecek spesifikasi aerospace system. Satu lagi kebetulannya, proyek ini juga merupakan kerjasama dari beberapa institut yang salah satunya terletak di… Trento! Hihi, jadi makin tertarik buat daftar.

Setelah ngirim lamaran dan wawancara, alhamdulillah dapet juga kerjaannya meskipun komentar dari pewawancaranya kaya gini: “Eventhough I noticed that you are still underdeveloped in software development thingy, you have the theoretical background and  the passion to apply your knowledge into practical world”. Huehehe… Underdeveloped ? Iya deh, daku memang bukan software engineer sejati, hahaha.

Eniwei, disini student job udah diitung sebagai kerjaan beneran. Meskipun statusnya masih dalam masa percobaan 2 bulan, untuk terdaftar resmi sebagai pekerja aku musti ngisi beberapa formulir yang isinya menyangkut asuransi, pajak de el el yang aku ga pernah tau sebelumnya (mana pake bahasa Jerman pula!). Dengan bantuan teman-temanku yang baik hati dan penyayang, aku selesai juga ngisi formulir-formulir yang bikin puyeng itu. Harus ngurus kartu pajak juga dari kantor registrasi setempat. Ribet dah. Jadi inget semasa jadi asisten di ITB dulu kayanya cukup dateng ke kantor TU nagih amplop sekali dalam satu semester :D

Kerjaanku dimulai sejak bulan Agustus ini. Seminggu pertama baru disuruh baca buku tebel tentang software engineering dan design patterns, tapi minggu berikutnya tugasnya udah mulai susah. Software profiling. Bikin tabel tentang fungsi-fungsi apa aja yang paling sering diakses modul-modul di software itu, berikut berapa persen waktu yang dihabiskan untuk menjalankan tiap fungsi dalam sekali runtime. Tugas berikutnya lagi ngitung space and time complexity tiap algoritma. Gimana pula itu ngerjainnya ya :p Sepertinya daku telah menjerumuskan diriku sendiri dalam dunia antah berantah berlabel teori kali ini. Tapi kayanya pekerjaannya lumayan menantang. Semoga lancar-lancar yaa… :D

Hari ini hari Jumat

Agustus 8, 2008

Huahh… setelah melalui 3 jam yang terasa paaaaaaaaaaanjang dan laaaaaaaama tadi malam, hari ini rasanya plong! Baru ingat kalo hari ini hari Jum’at. Friday is a good day, untuk menutup luka lama dan memulai semangat baru! Dimulai dengan ritual buang sial seperti biasa, ambil gunting, trus kres kres kres… Chitra sang artis cap jari kelingking mulai beraksi! Miring-miring biarin dah, yang penting kan yang jelek-jelek udah ikut kebuang, huehehehe…

Hari ini serius mau mulai belajar buat ujian terakhirku semester ini. Ujiannya tanggal 12 Agustus minggu depan, dan tanggal 11 malam maunya semua sudah harus beres, soalnya mau nonton hujan meteor!! Katanya peak time-nya jam 2 pagi, semoga masih kuat melek dan bisa bangun tepat waktu buat ujian pagi harinya.

Oya, pas baru nyalain komputer, eh dapet pesen ini dari temen di messenger,

Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah bersabda, “Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta”

Pas banget pesennya. Sip. Pasang senyum, teguhkan hati, dan mulai harimu dengan semangat baru!

Lalat

Juli 24, 2008

Musuhku jahat lalat

Hitam kecil dan cepat

Itu nyanyian ibu di kala kami sedang asik mengejar makhluk hitam kecil cepat bernama lalat yang suka hinggap di atas apa saja yang bisa disantap.

Meskipun musim panas di Aachen penuh hujan dan cuaca mendung, tetap saja, tiap hari pasti ada seekor lalat yang berhasil menerobos masuk dari jendela yang sedikit terbuka.

Musuhku jahat lalat

Mari-mari kutangkap

Bukan untuk dipeluk

Juli 20, 2008

Sahabatku tahu benar aku menghindari sentuhan langsung dengan lawan sejenis dan selalu berhati-hati menjaga kebiasaanku. Ketika aku sedih atau merasa sendiri, ketika aku mendapat pekerjaan, ketika aku gembira dan berseri-seri, dia sering berkata, “I wish I can give you a hug” atau “I wish you can think of me as a girl” atau kalau sedang agak-agak rasis “I wish muslim people are not so complicated!”

Hari ini dia menemukan solusi: ia berdiri di hadapanku, meminta pacarnya untuk berdiri di tengah kami menghadapku, menempelkan lengannya di belakang lengan pacarnya, lalu meminta pacarnya untuk memelukku (hmm.. lebih gampang digambar daripada dijelaskan, tapi intinya aku hanya bersentuhan dengan pacarnya).

“I don’t know why I have to deal with your complicated way of life all the time, but this is a hug for me to you!”, ujarnya.

Dalam waktu dekat dua flatmateku bakal pergi. Yang satu baru saja lulus kuliah dan mendapat pekerjaan di Amsterdam, dan yang satu lagi bakal kembali ke Madrid untuk menyelesaikan kuliahnya disana. Sedih juga, meskipun kami belum lama tinggal serumah, rasanya sudah seperti keluarga. Tapi masalah yang lebih penting sekarang, kami harus mencari penghuni baru secepatnya. Kalau tidak, bapak pemilik rumah bakal menempatkan orang baru, dan orang itu bisa siapa saja yang daftar padanya pertama kali. Jadi jauh lebih baik kalau kami sendiri yang mencari pengganti dengan harapan kami bisa menemukan dua gadis manis nan baik hati yang bisa hidup rukun aman damai gemah ripah loh jinawi bersama-samaku nanti.

Dengan bahasa Jermanku yang masih modal-madul, seminggu yang lalu aku berusaha menulis iklan untuk dipajang di situs pencarian rumah. Tidak sabaran dengan metode penulisanku yang bolak-balik pindah dari teks ke kamus ke google translate, akhirnya flatmateku mengambil alih laptopku dan menulis iklan yang kalo diterjemahkan kira-kira seperti berikut ini:

Kami mencari seorang gadis baik-baik untuk menghuni salah satu kamar di kediaman kami yang luar biasa! Disini kamu bisa menjumpai cuaca yang sangat bersahabat seperti di Aachen pada umumnya. (PS: Aachen = hujan-angin-badai sepanjang musim panas!) Kediaman kami dilengkapi dengan sebuah dapur yang luas, lengkap dengan oven dan peralatan masak-memasak yang dengan senang hati kami gunakan untuk saling meracuni satu sama lain dengan menu spesial dari negara masing-masing! Jangan lewatkan kesempatan ini! Jika tertarik, kirimkan segera sebuat email beserta detail tentang diri kamu ke alamat berikut ini…

Maksud hati flatmateku cuman bercanda, dia ingin aku menulis iklan dengan bahasa yang lebih manusiawi. Tapi aku mengupload iklan yang ditulisnya segera setelah dia pergi. “What????”, komentarnya setelah dia tahu. “You really uploaded my ad??? Do you know what kind of people will respond to that kind of ad?”. “People with a good sense of humour,” jawabku :) Dan segera setelah itu dimulailah pencarian yang berlika-liku dalam rangka menemukan dua orang calon penghuni kediaman kami…

Dimulai dengan menerima belasan email, mengundang para kandidat untuk menjenguk rumah, membuat janji, mengantar mereka melihat-lihat seluruh sudut rumah kami, mengobrol sedikit untuk saling mengenal kebiasaan masing-masing (biasanya diawali dengan 5-10 menit dalam bahasa Jerman, dipotong dengan pertanyaan “Bisa bahasa Inggris engga?”, dan ditutup dengan percakapan dalam bahasa Inggris campur-campur sedikit Jerman -  atau sebaliknya), mengantar mereka keluar rumah, dan menutup malam dengan diskusi tentang para kandidat yang datang di hari itu.

Tidak mudah. Ada beberapa kandidat yang ketika mereka datang, dalam 5 menit kami sudah jatuh hati untuk menjadikannya penghuni baru rumah kami, ada yang pada akhirnya tidak datang tapi tidak memberi kabar. Ada yang buru-buru, ada yang sempat mengalahkan flatmateku dalam sebuah babak permainan catur. Ada yang terlalu cinta pada kebersihan (dan kami tidak!). Ada yang banyak tertawa, ada yang tidak memberi senyum sama sekali. Beberapa kali kami menjawab iya pada seorang kandidat, tapi ternyata mereka sudah mendapat kamar di tempat yang lain.

Hari ini kami sudah menemukan satu kandidat pasti untuk bulan September, menggantikan flatmateku yang bakal kembali ke Spanyol. Masih satu lagi kamar kosong yang harus diisi dan belasan email untuk dijawab. Uff, semoga segera beres urusan kami yang satu ini!

Aku tak sendiri

Mei 7, 2008

Hari ini suhu di Aachen mencapai 25 derajat celcius. Kalau tidak ada angin sejuk yang berhembus, pasti sudah terasa seperti di tanah air. Seminggu ini orang-orang sudah berganti kostum karena udara mulai menghangat. Para pria mengenakan kaos oblong plus celana pendeknya dan para gadis mulai mengeluarkan koleksi tank top dan rok mini mereka dari lemari.

Sepulang dari les bahasa Jerman siang tadi, entah kenapa tiba-tiba aku merasa sendiri. Berjalan diantara rombongan-rombongan mahasiswa, aku merasa terasing dan berbeda. Karena kerudung di tengah lautan bahu yang terbuka? Mungkin.

Tapi, perasaan itu hanya bertahan beberapa detik saja. Allah Maha Mendengar bisikan hati hamba-Nya. Dari tengah-tengah lautan manusia yang membuatku merasa berbeda, tiba-tiba muncul seraut wajah manis berbalut kerudung putih. Mata kami bertemu. Kami saling melontarkan senyum dan anggukan. Salam, saudaraku. Semoga cerah hari ini untukmu.

Aku tak sendiri.

Hmm.. akhir-akhir ini sering memulai proyek-proyek pribadi yang pada akhirnya ga dituntaskan.

Waktu itu pernah pengen bikin proyek “One Picture a Day”; tiap hari harus bikin setidaknya satu foto. Fotonya bisa tentang apa aja, tapi lebih bagus kalo objeknya mencerminkan apa yang kita alami hari itu. Idenya bagus, di akhir tahun kita bakal punya kolase 365 foto yang menceritakan hidup kita dalam setahun tanpa kata-kata. Cuman bertahan seminggu. Pemalesan.

Proyek berikutnya belajar maen gitar. Setelah sebulan membiarkan si gitar tua peninggalan penghuni lama tergeletak begitu saja, lama-lama tergelitik juga pengen belajar maen. Setelah cari-cari free online guitar course dari internet, akhirnya nemu juga yang lumayan gampang diikutin. Genjreng genjreng, 3 minggu kemudian si gitar tergeletak lagi di samping lemari.

Aktivitas berikutnya: bikin strip komik di Strip Generator. Awal-awal semangat bikinnya, seenggaknya satu strip tiap hari. Idenya juga mengalir deras (with my poor flatmate as the main object :D ). Setelah beberapa hari, awal April kemaren musti keluar kota dan ga bisa konek internet. Pas balik lagi, ide-idenya udah ilang deh. Berhenti lagi.

Proyek yang sekarang lagi jalan ada 3:

  • bikin photoblog (linknya di blogroll). Kali ini ga nargetin musti bikin satu foto sehari. It’s just a blog with minimum number of words. Kalo lagi pengen ya posting, kalo lagi ga pengen ya engga. No pressure. Semoga bertahan lama.
  • belajar bahasa. Lagi semangat nih. Jerman (pastinya), Spanyol (biar ngeh kalo lagi dirumpiin sama flatmatekuh), plus Perancis (kayanya seru, biarpun bikin lidah kelipet-lipet). Hidup podcast! Hidup iTunes!
  • tanam-menanam. Selain 7 buah pot bunga yang berjajar di jendela, beberapa hari yang lalu aku nancepin beberapa siung bawang putih di wadah plastik. Udah mulai tumbuh lho sekarang. Proyek berikutnya mo nanem biji mangga di pot. Mudahan bisa tumbuh juga yang ini.

Yup, meskipun selalu diprotes seseorang yang berpendapat anak informatik harusnya punya setidaknya satu proyek yang berbau-bau coding, semoga kali ini virus pemalesan ga lagi menyerang dan proyek-proyek kecilku berjalan lancar….

¡Que aproveche!

April 28, 2008

Hari ini temen seflatku bikin makan siang bareng keluarganya di Spanyol via video conference. Siang tadi kita masak spaghetti ala carbonara versi simpel (spaghetti+tuna+cream+oregano+basil).

Spaghetti carbonara

Setelah makanan siap, laptop+speaker+webcam diset di deket meja makan, trus kita makan bareng-bareng sama keluarganya di sana. ¡Que aproveche! alias selamat makan! Seru juga, plus bikin mupeng… Seandainya saja bapak ibuku ga gaptek… :D

Eniwei, setelah mempraktekkan beberapa patah kata dalam bahasa Spanyol dan membocorkan sedikit rahasia flatmateku ke ortunya, hasilnya: dapet undangan maen ke Spanyol! Huehuehue… Ayo kita jalan-jalan lagi… :D

3 minggu pertama

Maret 19, 2008

Yup, udah tiga minggu aku tinggal di Aachen. Let’s see udah ngapain aja….

pendaftaran dan laen-laen

  • daftar diri sebagai penduduk Aachen
  • registrasi di Uni (student IDnya udah 3 minggu ini ditungguin lewat pos ga nyampe2)
  • ngurus residence permit. 10 menit doang! bandingkan dengan ngurus residence permit di Trento yang ngasi aplikasinya bulan September 2007 tapi baru dikasi appointmentnya akhir Maret 2008!
  • bikin kontrak sama O2 dan dapet nomer hape baru
  • buka rekening bank. setelah seminggu nungguin PIN, pas nyoba pertama kali masukin PINnya salah mulu. 3 kali. diblokir deh…

bersih-bersih apartemen

Cerita lengkap tentang apartemen liat disini ajah

jalan-jalan

Meskipun udah 3 minggu, jalan-jalan di Jermannya malah belum sama sekali. Jalan-jalan pertama sejak nyampe di Aachen maen ke Drielandenpunt, titik bertemunya 3 negara: Jerman, Belanda, plus Belgia. Waktu itu ga lagi ga ada yang bisa diajak maen, jadilah daku sang lonely ranger, sok-sok jadi petualang. Tapi seru juga, sempet jalan-jalan di hutan pinus (dan sempet deg-degan pas nengok kanan kiri ga ada orang sama sekali), mengunjungi 3 negara dalam 3 langkah (muterin tugu penanda titik pertemuan 3 negara itu), manjat menara (dan pusing-pusing pas turun ke bawah), dan ditutup dengan 1.5 tersesat dalam labirin! Yup, di sana ada labirin yang dindingnya terbuat dari tanaman. Karena masih musim semi, daun-daun tanaman itu belom pada tumbuh, jadi harusnya lebih gampang buat nyari jalan keluar karena dindingnya masih tembus pandang. Ditambah lagi ada 3 buah menara tempat kita bisa naik ke atas dan melihat jalur labirin dari atas. Tapiiii… ga segampang itu kawan! Ada sekitar 4 rombongan yang masuk labirin bareng-bareng aku dan sama-sama ga bisa nemu jalan keluar. Pertamanya sih masih seru, tapi pas udah lewat dari 45 menit dan tetep ga bisa keluar jadinya mulai frustasi! Untungnya setelah 1.5 jam akhirnya ketemu juga tuh jalan keluarnya. Udah cape, pusing, lapeur pula… kruyuk-kruyuk… daku pun segera pulang menuju dapur tercinta!

Minggu berikutnya maen lagi, kali ini ke Belanda ngunjungin beberapa temen. Diawali dengan mampir ke Eindhoven ketemu dua orang Ar** yang sama-sama lagi pada ambil Master di sana, maen-maen seharian ke Den Haag, ngerayain ulang taun Gina di Haarlem, dan diakhiri dengan petualangan sehari di Amsterdam.

Minggu berikutnya lagi? Diem di rumah ga punya duit, hehehe…

masak-masak

Sejak disini jadi suka ketularan temen-temen bikin nasi berbumbu dan jarang bikin nasi putih lagi. Beras, air, minyak zaitun, bawang putih, garam, plus bahan-bahan tambahan (kadang pake peterseli, kacang kapri, atau jagung pipilan) dimasukin jadi satu di rice cooker. Ceklek, tancepin, jadi deh… Di minggu pertama udah nemu toko Asia yang jualan bumbu-bumbu jadi, Indomie, plus beberapa saos Indofood, jadilah masak-masaknya puas :) Karena disini ada oven, aku kemaren beli cetakan kue juga akhirnya. Sementara ini sih baru dipake buat bikin Puding Roti Panas, tapi masih ada setahun lagi buat bereksperimen! Di dapur ada juga peninggalan beberapa buku resep masakan Eropa, jadi agenda masak-memasak bisa dijadwalin sekarang :D

ikut pengajian ibu-ibu

Disinilah tempatnya makan masakan Indonesia sepuas-puasnya! Huehehe…

Ehem ehem, mode serius on. Sejak meninggalkan tanah air, kayanya kualitas ibadah jadi agak-agak berkurang gitu. Jadi males juga buat mengupgrade diri. Payah benerlah :( Pas pindahan ke Aachen, eh dapet flatmatenya ternyata seseorang yang ga percaya ama Tuhan alias atheis dan dia orangnya suka ingin tau alias sering nanya mengapa begini mengapa begitu. Sejak itulah semangat buat mendalami agamaku jadi berkibar lagi. Kan malu kalo ditanyain trus njawabnya ga tau dan mumpung lagi ada ladang buat dakwah juga :)

Nah, makanya pas dikasi tau ada pengajian buat ibu-ibu ini aku seneng banget. Di pertemuan pertama, duhh.. sejuk banget rasanya pas baca Al Quran. Udah kangen banget tilawah bareng-bareng. Kangen juga sama mentoring, huk huk…

dan tentunya… kangen juga sama masakan Indonesia yang melimpah ruah di tiap pertemuan! :D

belajar maen gitar

Gitar akustik tua yang aku pake buat belajar adalah salah satu benda yang ditinggalin sama pemilik kamarku sebelumnya. Setelah beberapa lama kubiarkan menganggur di lemari, akhirnya tergelitik juga pengen bisa maen. Setelah dibersihin dari debu-debu yang menempel, diganti senarnya, trus dituning pake online tuner, kini si gitar tua bisa berbahagia karena ia dipetik minimal 30 menit tiap harinya!

Flatmateku bilang, “Kurang keras maennya, Chit” Ini sarcasm mode on apa gimana ya maksudnya? :D

belajar bahasa Jerman

Berbekal beberapa minggu belajar dari podcast dan online coursenya Deutsche Welle, hari ini aku ikut placement test buat kursus bahasa Jerman di language centernya Uni, dan hasilnya aku ditempatin di level A2.2! Not bad :D

Ok de, laporan selesai untuk hari ini. Ga sabar pengen mulai kuliah…!