Pengalaman Belajar Kreativitas di IIP

Memasuki caturwulan ke-3 di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, kami disambut dengan berbagai kejutan yang membahagiakan. Mulai dari kehadiran dua fasil baru dengan pengalaman segudang, juga cara belajar baru yang membangkitkan lagi gairah belajar yang bagi saya pribadi sempat meredup di materi-materi sebelumnya. Materi pertama yang kami pelajari di caturwulan 3 ini adalah tentang kreativitas. Topik ini terus terang begitu dekat di hati karena merupakan sesuatu yang sedang banyak saya renungkan akhir-akhir ini. Salah satunya adalah karena bayangan tentang kreativitas membuat saya sering mengelana ke masa kecil.

Dulu, salah satu acara favorit saya di TV adalah sebuah acara dari Jepang berjudul Dekirukana, tentang dua tokoh, Noppo dan Gonta, yang memperagakan cara membuat aneka prakarya. Saya ingat betul bagaimana berbinarnya saya setiap acara ini muncul, bahkan lagu intronya masih terngiang hingga kini di ingatan. Tak hanya suka menonton, saya juga jadi suka berkarya. Salah satunya yang masih ingat hingga kini, karton-karton bekas saya sulap jadi pembatas buku berhias gambar binatang yang kemudian saya jual ke teman-teman di sekolah dengan harga seratus perak. Lumayan, bisa untuk jajan Krip-Krip empat bungkus 😆

dekirukana1
Noppo dan Gonta dalam Dekirukana

Saya dulu juga gemar bermain di kebun, membuat minyak-minyakan dari perasan daun kembang sepatu, membuat kue dari lumpur yang dipanggang di bawah sinar matahari, juga membuat ‘gua persembunyian’ dari sulur-sulur tanaman. Saya ciptakan aneka permainan baru untuk dimainkan bersama teman-teman di halaman sekolah (mereka kok ya mau saja ya ngikutin saya 😅). Saya juga cukup sering menulis atau merekam suara di kaset mengisahkan aneka cerita pendek, walaupun temanya selalu tentang putri-putrian ala sinetron: Putri Kenanga yang baik hati, atau Putri Cempaka yang seorang anak tiri 😂

Sayangnya, semua kenangan itu memudar pelahan seiring saya bertambah usia. Tak ada lagi cerpen yang ditulis, pembatas buku yang dijual, dan kue lumpur yang dipanggang. Semua terkalahkan dengan tumpukan buku pelajaran dan PR yang harus dikerjakan. Sebetulnya, saya mengenang sekolah sebagai tempat yang menyenangkan. Ibu saya bercerita, saya tak pernah harus disuruh belajar. Baru-baru ini, ketika saya sudah mulai belajar bahasa bakat dari Abah Rama, saya mulai mengenali bahwa learner, discipline, dan competition, adalah beberapa kata yang cocok mendefinisikan saya di sekolah. Saya bertumbuh dan mekar dari segi akademik. Karena saya juga sangat menikmati proses belajarnya, saya akhirnya tak menyadari bahwa sepanjang proses itu ternyata ada yang kemudian termandulkan: kreativitas yang dulu begitu menyala.

Padamnya kreativitas ini begitu terasa sekarang. Ketika saya langsung keder duluan saat ditantang menulis fiksi di Rumbel Menulis, ketika saya mencap diri ‘tak bisa menggambar’ saat sedang mencoba-coba doodling, juga ketika tumpukan kardus dan kain flannel untuk mainan si kecil akhirnya hanya teronggok di sudut rumah. Hmm.. kemana larinya semua ide dan energi yang dulu meluncur begitu deras di masa kecil?

***

Mari kembali sejenak ke kelas Bunda Sayang. Tak seperti biasanya, ada prolog yang diberikan kepada kami sehari sebelum materi, sebuah slide presentasi dari Khresna Aditya.

Screenshot_20171105-230802~01.png

Menumbuhkan Kreativitas Anak Usia Dini. Begitulah judulnya, yang kemudian langsung dipersalahkan sendiri oleh penulisnya di halaman berikutnya. Mengapa?

“All children are born artists”

– Pablo Picasso –

Ya, karena anak-anak kita sudah kreatif sejak lahir! Mereka memiliki rasa ingin tahu yang besar, tidak mengenal kata tidak mungkin, dan tidak takut salah. Kitalah, orang-orang dewasa yang mematikan kreativitas mereka dengan bersikap terlalu protektif, terlalu fokus pada masa depan anak, juga memasukkan anak pada sistem sekolah yang mematikan fitrah belajar. Wah, menohok sekali rasanya. Saya kembali mengenang masa lalu ketika membaca tentang hal ini. Sistem sekolah yang mematikan fitrah dan terlalu fokus pada tujuan akademik. Itulah rasanya yang saya alami hingga otak saya kini terasa tumpul dan tak mampu menelurkan ide-ide baru. Namun, saya menyadari bahwa yang terpenting saat ini adalah jangan sampai apa yang terjadi pada saya terulang kembali pada si kecil. Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa kitalah, orang-orang dewasa di sekitar anak, yang harus berubah. Kita harus memberikan lebih banyak dorongan, mencintai anak tanpa syarat, menghargai keunikan tiap anak, dan memberikan dunia untuk dijelajahi. Inilah cara untuk memelihara kreativitas mereka sepanjang hayat.

Membaca prolog tersebut, intellectual curiosity teman-teman sekelas pun mulai aktif kembali. Banyak pertanyaan bermunculan, namun salah satu yang paling hangat didiskusikan adalah tentang sistem sekolah. Apakah sistem sekolah yang ada saat ini benar-benar salah? Apakah homeschooling adalah satu-satunya jawaban? Lalu bagaimana menyikapinya jika orang tua belum mampu melaksanakan homeschooling di rumah? Tertangkap dengan jelas kegalauan teman-teman, terutama yang sudah memasukkan anaknya ke sekolah.

Fasil kami, Bunda Lina, kemudian memberikan sebuah artikel tambahan [2] dan mengajak kami semua untuk merenungkan kembali bagaimana posisi orang tua, rumah, dan sekolah dalam menjaga kreativitas anak-anak kita. Apakah semua saling bersinergi untuk menguatkan? Ataukah ada salah satu yang malah membuatnya padam?

Diskusi kemudian berlanjut. Salah satu hal yang sangat berkesan bagi saya adalah cara Bunda Fasil memfasilitasi diskusi kami. Alih-alih menyuapi kami dengan pernyataan dan jawaban, beliau merangsang kami dengan pertanyaan lain yang membuat kami lebih aktif mencari jawaban dan membuat kesimpulan sendiri, serta lebih percaya diri dalam mengungkapkannya. Ah, senang sekali belajar dengan cara ini. Suasana kelas pun semakin hidup, beberapa teman bahkan mengalami ‘aha moment’ ketika menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri.

Saya pun akhirnya mencoba mengemukakan pendapat, setelah sekian lama menjadi silent reader dalam diskusi-diskusi materi, bahwa tidak ada sistem pendidikan yang benar-benar sempurna bagi semua anak. Dikuatkan dengan pendapat Mbak Nike yang juga berpikiran bahwa bisa saja dalam satu keluarga, anak yang satu ke sekolah negeri, yang satu ke sekolah alam, dan yang satu homeschooling.

Homeschooling itu pilihan namun home education adalah kewajiban.

Rasanya saya setuju juga dengan ini. Apa pun dan di mana pun anak kita belajar, yang penting adalah memastikan bahwa sistem yang kita pilih tidak mematikan fitrah anak dan malah melejitkannya.

***

IMG-20171031-WA0004.jpg

Keesokan harinya, materi utama pun diberikan. Ada kejutan lagi, kali ini kami belajar dengan cara yang sangat berbeda dari sebelumnya. Materi diberikan berupa slide satu demi satu. Satu slide-diskusi, satu slide-diskusi, begitu seterusnya. Slidenya tidak hanya berisi materi, tapi juga berbagai tantangan mind game seperti menebak gambar, menebak tulisan, juga menghubungkan titik-titik dengan garis. Materinya sendiri disampaikan secara singkat dan padat tanpa banyak uraian. Bahkan sebelum slide materi ditampilkan, fasil kami memancing kami untuk menyimpulkan sendiri terlebih dahulu learning point dari tantangan mind game sebelumnya.  Semuanya dilakukan untuk merangsang kami lebih banyak berpikir sendiri. Wah, kelas menjadi sangat ramai dan meriah. Jauh berbeda dengan sebelumnya, ketika materi diberikan dalam bentuk artikel dan semua mengunyah sendiri-sendiri. Kami juga dipacu dengan kecepatan tinggi. Rasanya seperti di bangku kuliah lagi. Hidup dan ramai suasananya. Slide terakhir diberikan sebagai pekerjaan rumah untuk kami dengan satu pertanyaan,

Apa yang menghambat Anda selama ini untuk menjadi ibu kreatif, dan bagaimana solusinya?

Dasar malas mikir, bukannya merenung, saya malah cari referensi 😅. Ketemulah satu artikel [3] tentang beragam ketakutan yang seringkali menghambat kreativitas kita. Waw, baca artikel ini banyak sekali poin yang terasa mak jleb,  antara lain bahwa kita seringkali mencap diri sendiri tidak kreatif, takut gagal, takut dikritik dan ditolak. Ini yang seringkali saya rasakan. Mengucapkan “Ah, saya pasti ga bakalan bisa”, atau “Ah, pasti nanti hasilnya jelek”, bahkan sebelum mencoba melakukannya (hello, flash fiction writing!). Satu poin lagi juga benar-benar mengena: kreativitas terhambat karena takut menjadi tidak logis dan terstruktur. Wah, ini saya banget. Saya sering terlalu perfeksionis dan terlalu banyak menganalisa ketika berkarya, yang menyebabkan karya saya malah tidak jadi-jadi. Padahal, ada kutipan bagus berikut ini:

Don’t try to create and analyze at the same time. They’re different process.

– John Cage –

Camkan itu, Chitra!

Poin terakhir yang juga mengena adalah bahwa dalam proses kreatif, bakat dan inspirasi saja tidaklah cukup. Kita juga butuh disiplin dan komitmen untuk mengeksekusi ide menjadi realita. Saya jadi teringat pada tumpukan bahan untuk mainan si kecil, draft tulisan yang tidak kunjung selesai, juga aneka desain grafis setengah jadi. Semuanya jadi PR yang menghantui, mengejar-ngejar saya untuk diselesaikan.

Hmmm… kalau dipikir-pikir tugas saya kali ini cukup banyak, dan kebanyakan berkutat dengan memperbaiki persepsi diri. Thumbs up buat IIP yang telah menyiapkan materi dan tantangan kali ini. Tantangan tentang kreativitas yang disampaikan melalui cara yang kreatif. Semoga kali ini saya bisa lebih bersungguh-sungguh mengerjakannya. Lagipula, hari ini saya sudah melakukan satu langkah besar: menghidupkan kembali blog yang mati suri ini. Sekali-kali pengen dapat outstanding performance boleh, dong? 😚

#KelasBundaSayang
#InstitutIbuProfesional
#ThinkCreative

Sumber

[1] Materi dan diskusi Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Mr. Jatsela
[2] Menjaga Anak Tetap Kreatif. Khresna Aditya.
[3] 10 Fears Holding You Back from Creativity and How to Beat Them. Devi Clark.

Mengirim barang dari Belanda ke Indonesia

Menjelang kepulangan saya ke Indonesia, salah satu hal yang memakan cukup banyak waktu dan tenaga adalah mengepak dan mengirimkan barang-barang saya ke Indonesia. Setelah 3.5 tahun tinggal di benua Eropa, ternyata cukup banyak barang yang saya kumpulkan, terutama alat-alat dapur. Untuk pengemasan, saya menggunakan kardus pindahan Jättene dari Ikea berukuran 56x33x41 cm dengan maximum isi barang 30kg. Sebetulnya salah satu teman menyarankan untuk tidak menggunakan kardus Ikea karena kurang kuat, tapi untuk kepindahan saya yang terakhir dari Austria ke Belanda saya menggunakan kardus Ikea ini dan alhamdulillah selamat. Ditambah lagi saya malas keluar mencari kardus lain, saya pun menggunakan kardus yang sudah ada. Total ada 4 kardus yang saya penuhi dengan barang-barang seberat 66 kg. Saya berusaha membagi barang sesuai berat supaya kardus tidak mudah jebol sehingga masing-masing kardus akhirnya memiliki berat 16-17 kg saja. Untuk pengemasan, saya menggunakan plaster berwarna cokelat untuk menutup seluruh permukaan kardus sekaligus menguatkan sambungannya. Berikutnya saya membungkus setiap kardus dengan cling wrap agar lebih tahan air. Setelah 3 kardus, karena kehabisan cling wrap, saya pun membungkus kardus terakhir dengan kantung sampah hitam yang saya belah sisi-sisinya. Penampakan kardus setelah dibungkus seperti ini:

C360_2015-04-27-11-14-08-820
Kardus Ikea yang sudah dibungkus

Saya pun mulai mencari perusahaan jasa pengiriman barang dengan kontainer. Di tahun 2009, ketika saya pulang ke Indonesia dari Jerman, saya menggunakan jasa Ruhr kontainer. Kali ini saya mencari jasa serupa dari Belanda. Saya mencari lewat mesin pencari google dan juga bertanya ke teman-teman yang sudah pernah mengirim barang ke Indonesia. Pencarian saya membuahkan tiga alternatif:

Bagus dan Holindo keduanya berbasis di Belanda, dan Pulang Kampung di Jerman tapi juga melayani penjemputan ke Belanda. Kesan di awal, website Holindo menurut saya terlihat paling profesional. Adapun Pulang Kampung menerapkan beberapa aturan yang lebih ketat dibandingkan yang lain, dari segi barang-barang yang tidak boleh dikirim dan dari segi pengemasan. Karena ingin barang saya dijemput ke rumah, saya akhirnya mempertimbangkan Bagus dan Holindo saja karena biaya penjemputan yang saya pikir akan lebih murah dibandingkan dengan jika barang saya dijemput dari Jerman. Dua teman yang pernah menggunakan jasa Bagus dari Eindhoven mengatakan bahwa penjemputan barang tidak tepat waktu. Satu orang terpaksa menitipkan barangnya dulu di rumah teman karena ia keburu pulang, dan satu orang lagi akhirnya berpindah menggunakan jasa Pulang Kampung. Berdasar pengalaman ini, ditambah dengan hasil diskusi dengan teman saya Mbak W yang juga akan pulang ke Indonesia, saya pun menghubungi Holindo lewat contact form di website mereka, dan juga lewat email.

Setelah beberapa hari menunggu dan belum ada balasan, saya pun mulai resah. Mbak W mengatakan bahwa ia langsung mendapat respon sehari sesudahnya. Karena deg-degan karena kepulangan saya sudah dekat, saya pun akhirnya menghubungi Bagus. Meskipun tidak langsung dibalas juga, akhirnya saya ditelpon setelah beberapa hari, mengabarkan bahwa mereka akan berada di Eindhoven hari Senin yang lalu dan menanyakan apakah barang saya mau sekalian dijemput. Saya pun segera mengiyakan. Tidak lama kemudian saya mendapat kiriman faktur dan kode pengiriman yang harus diprint atau ditulis dan ditempel di semua sisi atas setiap kardus. Dari faktur yang diberikan, saya melihat bahwa informasi kontak yang terdapat di website tidak diupdate. Berikut kontak yang mereka cantumkan di faktur, berbeda dengan yang ada di website:

Bagus Cargo
Alamat: Buijs Ballotstraat 5 BU 6, 2693 BD ‘s-Gravenzande
Tel: 0174 284 822
Mob: 06 2838 0768
Tel. IND: +62 (0)878 7214 8228

Ternyata, hanya selang beberapa jam kemudian saya akhirnya mendapat balasan dari Holindo. Mereka mengirimkan penawaran harga untuk jasa pengiriman ini. Karena saya sudah terlanjur mengiyakan pengiriman lewat Bagus, saya pun mohon maaf dan membatalkan permintaan saya sebelumnya. Namun demikian, saya pun sekarang bisa membandingkan struktur biaya antara Holindo dan Bagus di bawah ini:

Komponen Biaya (Euro)
Bagus Cargo Holindo
Basis (per kotak) 4×30=120 4×28=112
Penjemputan ke Eindhoven 25 2×29*=58
Pengiriman lokal ke Bekasi (per kilo) 66*0.35=23.50 66*0.3=19.80
Administrasi 7.5 6
Total 176 195.80

* karena barang saya kurang dari 1 m3 maka dikenakan tambahan 100% biaya penjemputan

Barang saya akhirnya dijemput oleh mas-mas dari Bagus Cargo yang datang dengan mobil van. Karena saya ada keperluan lain sebelumnya, saya tidak sempat menempel  label kode di setiap kardus. Ternyata si mas sudah menyiapkan label-labelnya dan dengan senang hati membantu menempel dengan selotip yang juga sudah disiapkan olehnya. Pengemasan saya juga dinilai sudah cukup dan tidak perlu dikenai biaya pengemasan ulang. Menurut si mas, kontainer akan diberangkatkan pada akhir bulan Mei dan kira-kira bisa diterima sekitar bulan Juli. Saya membayar biaya pengiriman secara cash, dan barang-barang saya pun akhirnya meninggalkan apartemen.

Demikian pengalaman saya mengirim barang, semoga bermanfaat bagi yang membutuhkan. Post ini akan saya update setelah barang saya sampai, ditambah dengan pengalaman Mbak W yang menggunakan Holindo.

Update
Barang saya sampai dalam 4 bulan. Setelah saya tunggu-tunggu dan tidak ada kabar, saya akhirnya menelepon perwakilan kargo di Indonesia. Sehari kemudian barangnya langsung di antar ke rumah di Bekasi. Mungkin barangnya sudah ada jauh sebelumnya, dan kita memang harus aktif menanyakan. Semua kardus sampai dengan selamat dan tidak ada yang robek.
Dari cerita sekilas Mbak W, barangnya via Holindo sampai lebih cepat dan tidak perlu ditelpon dulu sudah langsung diantar ke alamat tujuan.